Di balik peristiwa dahsyat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala pada tanggal 28 September tahun 2018, lahirlah sebuah cahaya harapan dari reruntuhan bencana yaitu Kampung Berkah Pasigala (KBP). Didirikan pada tanggal 6 Desember 2018 oleh para relawan kemanusiaan, KBP menjadi simbol kebangkitan dan kemandirian masyarakat terdampak bencana.
Lokasi Strategis di Perbukitan Raranggonau
Kampung Berkah Pasigala berdiri di atas kaki Bukit Poi Poopa, Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Wilayah ini berada dalam gugusan pegunungan Raranggonau, yang merupakan tanah leluhur masyarakat Suku Kaili Ledo. Letaknya yang tenang menjadikannya tempat ideal untuk pemulihan mental dan spiritual para penyintas bencana serta tempat belajar dan menghafalkan al Qur’an yang ideal.
Lembaga Sosial, Pendidikan, dan Kemandirian Ekonomi
KBP dikelola oleh lembaga kemanusiaan Para Relawan Indonesia (PRI) di bawah pimpinan Muhammad Nur Rajadeng (Pak Da). KBP tidak hanya menyediakan hunian sementara saat bencana, tapi kemudian membangun peradaban baru melalui pendidikan pesantren, pertanian, dan kewirausahaan sosial.
Salah satu program utama adalah Pesantren Tahfidzpreneur Izzatul Islam KBP, sebuah pesantren yang menggabungkan pendidikan tahfidz Al-Qur’an dengan pelatihan kewirausahaan, seperti pertanian, peternakan, hingga produksi pangan halal dan berkah. Pesantren KBP menjadi rumah bagi ratusan anak-anak yatim, dhuafa, dan penyintas trauma berat yang di pondokkan tanpa di pungut biaya atau tak berbayar.
Harapan dan Tantangan
Di tengah segala keterbatasan, KBP terus bertumbuh. Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dari logistik, akses jalan, fasilitas pesantren, hingga dukungan psikososial bagi anak-anak. Namun semangat kolektif dan gotong royong atau berjama’ah terus menjadi energi utama.
Kampung Berkah Pasigala adalah sekolah kehidupan, ladang amal, dan bukti bahwa dari puing-puing bencana, bisa tumbuh taman harapan yang menyejukkan umat manusia.